top info

Friday, September 23, 2011

Jepang Luncurkan Satelit Mata-mata Baru







TOKYO,  — Jepang meluncurkan satelit mata-mata baru ke orbit pada Jumat (23/9/2011). Ini merupakan upaya terbaru negara itu untuk mempercepat pengamatan terhadap ancaman rudal Korea Utara, kata pejabat berwenang.
Roket H-2A Jepang yang membawa satelit optik baru pengumpul informasi tersebut lepas landas pukul 13.36 waktu setempat (11.36 WIB) dari pusat antariksa Tanegashima di Jepang barat daya.
"Roket itu sukses diluncurkan dan satelit kemudian terpisah menuju ke orbit yang mengelilingi Bumi," kata pejabat dari Badan Penjelajahan Antariksa Jepang (JAXA) lewat telepon dari Tanegashima.
Tindakan tersebut merupakan usaha terbaru Jepang untuk membangun sistem pengumpulan data intelijen setelah rudal Korut diluncurkan ke arah kepulauan Jepang pada 1998.
Di tengah tekanan internasional, Korut kembali meluncurkan rudal yang diyakini sebagai rudal generasi ketiga Taepodong-2 pada April 2009 dengan perkiraan jangkauan terbang seluas 6.700 kilometer.
Jepang saat ini memiliki tiga satelit pengumpul informasi di orbit dan satelit terbaru itu akan menggantikan salah satu dari tiga satelit yang telah melewati masa berlaku.
Ketiga satelit itu merupakan satelit optik yang dapat menangkap gambar pada siang hari dan saat cuaca cerah.
Dalam dua tahun mendatang, Jepang berencana meluncurkan dua satelit radar yang dapat menangkap gambar pada malam hari dan saat cuaca mendung.
Biaya pengembangan empat satelit itu mencapai 36 miliar yen (470 juta dollar AS), dengan ongkos peluncuran mencapai 10 miliar yen, menurut pemerintah.
Sebelumnya, roket tersebut dijadwalkan untuk diluncurkan ke orbit pada 28 Agustus.
Namun, JAXA dan perusahaan industri berat Mitsubishi harus menunda peluncuran sebanyak tiga kali karena kondisi cuaca yang buruk akibat badai dan penemuan kesalahan pada sistem.

Inilah Teori Baru Runtuhnya WTC





WTC New York setelah diserang dan sebelum runtuh total pada 11 September 2001.



DEN HAAG,  Menara kembar pencakar langit World Trade Centre (WTC) di New York, yang dihantam dua pesawat pada 11 September 2001, tidak runtuh akibat kebakaran, tetapi akibat melelehnya aluminium dua pesawat tersebut. Demikian laporan harian Belanda, Spits, yang terbit dengan "Teori Baru Mengenai 9/11", sebagaimana dikutip Radio Nederland, Kamis (22/9/2011).
Keruntuhan disebabkan oleh kombinasi melelehnya dinding aluminium akibat suhu panas yang luar biasa ditambah semburan air dari alat-alat pemadam kebakaran otomatis di setiap ruangan. Itulah yang menyebabkan ledakan yang menghancurkan konstruksi bangunan.
Laporan harian itu berdasarkan hasil penelitian Christian Simensen, seorang ilmuwan Norwegia, yang disampaikan dalam sebuah kongres teknologi di San Diego, Amerika Serikat. Simensen bekerja di sebuah lembaga penelitian Norwegia, Sintef.
Simensen mengambil contoh percobaan yang dilakukan oleh pabrik aluminium Alcoa beberapa tahun lalu. Para ilmuwan mencampur 20 kilogram aluminium yang meleleh dengan 20 liter air. Serta merta, timbul ledakan dahsyat yang menghancurkan ruangan laboratorium dan membuat lubang selebar 30 meter. Kandungan aluminium kedua pesawat yang menghantam kedua gedung World Trade Centre New York mencapai 30 ton.
Teori Simensen cocok dengan keterangan saksi mata yang mendengar ledakan dahsyat saat kedua gedung pencakar langit World Trade Centre runtuh. Ledakan hebat tersebut sampai menimbulkan tuduhan bahwa kedua gedung itu sengaja diledakkan oleh aparat keamanan Amerika.
Menurut Spits, selama sepuluh tahun, Pemerintah Amerika Serikat melakukan berbagai penelitian mengenai penyebab runtuhnya kedua gedung pencakar langit itu.

Enam Perempuan Diperlakukan sebagai Budak Seks



BEIJING,  — Seorang pria di China ditahan setelah mengurung enam perempuan di ruang bawah rumahnya dan memperlakukan mereka sebagai budak seks. Dua di antara korban meninggal dan seorang di antaranya berhasil lolos, serta melaporkannya ke polisi.
Surat kabar Southern Metropolis Daily, seperti dikutip Reuters, melaporkan, pria tersebut bernama Li Hao (34), seorang pensiunan pemadam kebakaran di kantor pemerintahan di Luoyang, Provinsi Henan.
Ia dituduh membunuh dua orang wanita dan menguburnya di ruang bawah tanah rumahnya. Li ditahan sejak 6 September lalu. Dia diduga menculik enam pekerja kelab malam dan memerkosanya berulang kali. Dia juga memperlakukan para korban tidak manusiawi dengan hanya memberi makan tiap dua hari sekali.
Li kadang-kadang melepas para perempuan tersebut dari ruang bawah tanah hanya saat dia kehabisan uang. Ia memaksa para wanita itu berhubungan seks dengan pria lain, dan ia pun memperoleh uang.
Seorang perempuan (23) berhasil meloloskan diri dan melaporkan kejadian tersebut hingga akhirnya misteri ruang bawah tanah terbongkar. Li memiliki satu anak dan seorang istri. Mereka baru menyadari keberadaan ruang bawah tanah tersebut setelah suaminya ditahan.
Dalam proses penyelidikan, polisi menemukan dua mayat terkubur di penjara bawah tanah tersebut.

Wanita Ini Pelihara 1.000 Kucing

 
Dailymail Lynea Lattazio dengan sebagian dari kucingnya. 
 
 

FRESNO,  — Seorang wanita di Amerika Serikat memelihara 1.000 ekor kucing di rumahnya di Fresno, California.
Perempuan bernama Lynea Lattazio itu menamai rumahnya Cat House on The Kings, yang disebut-sebut tempat penampungan kucing tanpa kandang terbesar.
"Saya tidak gila, tapi yang saya lakukan memang gila," ujarnya.
Biaya pemeliharaan kucing-kucing itu mencapai 40.260 dollar AS per bulan. Uang sebanyak itu untuk membeli makanan dan obat-obatan buat mereka.
Dia mulai memelihara kucing sejak tahun 1981. Kini, di Cat House yang dikelolanya itu terdapat 800 kucing dewasa, 100 kucing titipan, dan 100 anak kucing. Lattazio dibantu 23 staf untuk merawat kucing-kucingnya.
Besarnya biaya yang dibutuhkan untuk memelihara kucing-kucing itu tidak membuatnya gentar. "Waktu kecil saya tidak boleh memelihara kucing. Padahal, cuma itu yang saya inginkan," ujarnya.
"Kucing itu mandiri, mereka lucu, dan tidak manja seperti anjing. Saya benar-benar suka kucing," katanya.
Lattazio memulai proyek gila-gilaan ini dengan merawat 15 kucing yang sakit. Padahal, awalnya dia hanya berniat mengambil dua saja untuk ayahnya.
"Dalam satu tahun saya sudah menyelamatkan 86 ekor kucing yang akan dibunuh," kenangnya.
"Dalam tiga tahun berikutnya, saya sudah memiliki 350 ekor kucing. Akhirnya, yang saya lakukan itu tersebar dan orang-orang mulai meletakkan kardus berisi kucing telantar di depan pintu rumah saya."
Lattazio menamai semua kucingnya, meskipun dia tidak hafal nama mereka satu per satu. "Waktu jumlah mereka masih 350, saya masih hafal. Sekarang tidak lagi," katanya.
Rumah luas yang kini digunakan sebagai rumah kucing itu merupakan bagian dari harta gono-gini saat bercerai dengan suaminya yang jutawan. Namun, untuk biaya pemeliharaan, dia merogoh dari kocek sendiri.
Meskipun mendapat dana bantuan dari masyarakat, tak urung dia harus mengupayakan sendiri pembiayaan utama kucing-kucingnya.
"Saya harus menjual cincin kawin berlian dan mobil Mercedez untuk mencukupi kebutuhan mereka yang terus melambung," ujarnya.

Pengembangan INDOMI dengan Radar Terbesar

 
 
 
LAPAN saat ini tengah menggiatkan pengembangan INDOMI (Indonesia Monsoon Index). Pengembangan dilakukan dengan Radar Atmosfer Khatulistiwa (RAK), radar terbesar dan terlengkap di khatulistiwa setelah MST (Mesosphere Stratosphere Thermospeher) Radar yang ada di India dan Peru.
Dr Eddy Hermawan, peneliti radar dari LAPAN mengatakan, bahwa INDOMI sudah dikembangkan sejak 2 tahun lalu dan masih berlangsung sampai sekarang. Tujuan pengembangan ini adalah melengkapi pemahaman tentang Monsoon yang berdampak pada iklim Indonesia dan global.
"Selama ini orang memahami Monsoon itu curah hujan, padahal sebenarnya berkaitan dengan angin. Lalu juga selama Monsoon itu dipahami di lapisan bawah atmosfer, padahal di lapisan atas," kata Eddy saat ditemui di gedung BPPT Jakarta, kemarin (22/9/20111).
Menurut Eddy, pemahaman mendasar tentang Monsoon tersebut harus diketahui masyarakat. Dengan demikian, RAK tidak hanya menghasilkan penemuan yang langsung bisa diaplikasikan tetapi lebih pada penguatan kapasitas.
Meski demikian, dengan pengembangan INDOMI, beberapa aplikasi praktis sudah terbayangkan. Misalnya memahami fenomena musim basah panjang dan kemarau panjang yang dalam konteks Indonesia berkaitan erat dengan angin barat dan angin timur.
"RAK bisa melihat pola angin secara 3D. Jadi, pergerakan angin bisa diketahui, lokasinya dimana dan waktunya kapan. Dengan adanya indeks Monsoon ini nanti kita bisa mengetahui kapan terjadinya musim basah panjang dan kemarau panjang," jelas Eddy.
10 Tahun Beroperasi RAK adalah radar terbesar di Indonesia yang ditempatkan di Kotatabang. Radar ini punya kelebihan sebab memiliki antena putar, didesain untuk mencitrakan secara 3D dan bisa memetakan fenomena elektromagnetik pada jarak hingga 100 km.
Radar ini adalah hasil kerjasma LAPAN dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) di Universitas Kyoto, Jepang. Hingga saat ini, RAK telah beroperasi selama 10 tahun.
Peringatan 10 tahun beroperasinya radar ini digelar kemarin di gedung BPPT Jakarta. Setelah 10 tahun beroperasi, beberapa hasil telah didapatkan.
"Dinamika atmosfer di ekuator dan prosesnya semakin banyak yang terkuak. Misalnya tentang plasma bubble, bagaimana naik ke atas," kata Mamoru Yamamoto, professor dari RISH.
Yamamoto menambahkan bahwa beberapa fenomena berhasil ditangkap RAK. "Contohnya, sebelum tsunami Aceh pada 26 Desember 2006, RAK menangkap dinamika atmosfer yang berbeda, meski masih perlu diteliti apakah hal tersebut betul-betul berkaitan dengan tsunami," tambah Yamamoto.
Saat ini, tengah ada proposal kerjasama RISH dan LAPAN lagi untuk menambah radar guna memahami lebih lanjut dinamika atmosfer. Radar tambahan itu 10x lebih sensitif dari RAK. Perwujudan proposal ini akan membantu memperluas pemahaman tentang dinamika atmosfer khatulistiwa.

Belajar Biodiversitas Indonesia Masa ke Luar Negeri?



Julio Dalponte Monyet spesies baru yang ditemukan. 
 
 
JAKARTA,  Indonesia memerlukan tambahan koleksi rujukan biodiversitas (reference collection). Saat ini, koleksi rujukan paling lengkap yang dimiliki Indonesia baru Museum Zooligicum Bogoriense. Koleksinya pun juga masih terbatas.
"Reference collection ini memang mahal, tapi kita harus punya. Idealnya memang tiap propinsi itu punya. Tapi paling tidak kita punya 5, yang mewakili tiap wilayah, misalnya Sumatera, Jawa dan sebagainya," kata Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Kepala P2 Biologi LIPI.
Salah satu manfaat yang bisa diperoleh dengan memiliki koleksi rujukan adalah mengetahui jumlah spesies di suatu wilayah. Dengan punya koleksi rujukan, pemantauan terhadap hilangnya suatu spesies dari lingkungan tertentu akan lebih mudah dilakukan.
"Contohnya kita bisa tahu bahwa 90 persen biodiversitas di Ciliwung itu hilang kan karena kita membandingkan dengan reference collection. Kita lihat dari museum di Bogor dan Leiden untuk mengetahui itu," jelas Nuramaliati yang akrab disapa Lili.
Manfaat lainnya, menurut Lili, adalah kemudahan bagi para taksonom untuk mengakses bahan untuk penelitian. Selama ini, untuk mengakses holotype suatu spesies, kadang taksonom harus pergi ke reference collection di luar negeri, menghabiskan biaya yang tak sedikit. Masa untuk melacak keanekaragaman hayati atau biodiversity di Indonesia harus ke luar negeri?
Lili mengungkapkan, reference collection tambahan nantinya bisa dikelola siapapun, misalnya kalangan universitas. Hal utama adalah memastikan bahwa setiap pengelola memiliki komitmen untuk mengelolanya secara berkelanjutan.
"Yang terpenting adalah komitmen. Jangan sampai nanti pemimpinnya ganti lalu bilang, buat apa ini, hanya menghabiskan biaya," kata Lili saat ditemui di acara Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I di Jakarta hari ini, Selasa (20/9/2011).
Tentang koleksi spesimen sendiri, saat ini masih harus ditambah. Jumlah koleksi spesies laut, termasuk yang ada di Museum Zoologi Bogor masih sangat minim. Eksplorasi biodiversitas laut masih harus dilakukan untuk menginventarisasi spesies-spesies yang ada.

Thursday, September 22, 2011

Bill Gates, Orang Terkaya Amerika Versi Forbes 400



Reuters Microsoft founder Bill Gates.

NEW YORK,  - Bill Gates menjadi orang terkaya di Amerika Serikat versi Forbes 400. Dalam situs Forbes.com disebutkan kekayaan bersih pengusaha yang putus kuliah dari Universitas Harvard ini mencapai 59 miliar dollar AS per bulan September 2011.
Seperempat dari kekayaan bersihnya berada di perusahaan teknologi yang didirikannya, Microsoft. Sisa kekayaannya, ia simpan dalam aset pribadi, saham global, obligasi, dan sejumlah perusahaan swasta.
Gates pun bukan hanya seorang pengusaha yang sekedar mencari keuntungan belaka. Ayah dari tiga orang anak ini memiliki misi utama dalam hidupnya untuk menumpas penyakit polio.
Gates sendiri telah menyumbang 28 miliar dollar AS untuk pemberantasan penyakit yang masih ada di empat negara di dunia. Di mana untuk kebutuhan vaksin saja perlu 1 miliar dollar per tahunnya. Melalui yayasannya, ia telah mengeluarkan dana mencapai 200 juta dollar AS.
Ternyata bukan hanya polio saja yang diperhatikan oleh pengusaha AS ini. Gates juga serius memerhatikan dunia pendidikan. Bantuan sebanyak lebih dari 2 miliar dollar AS telah ia gelontorkan untuk membantu sejumlah Sekolah Menengah Atas selama tahun 2000-2008.
"Saat saya mengumumkan pensiun saya pada tahun 2006, saya sedang bekerja di yayasan. Saya tertarik oleh sejumlah isu seputar ilmuwan yang menemukan vaksin, membuat benih yang lebih baik, dan bagaimana pendidikan sulit untuk dikembangkan. Saya pun melihat adanya kesulitan dana. Saat itu, tidak ada yang mau membiayai (penelitian) vaksin malaria, tidak ada yang mau membiayai vaksi tuberkolosis. Saya terpikat oleh semua itu, dan memutuskan bahwa saya sepenuhnya akan mengelola yayasan," ujar Gates seperti yang dikutip Forbes.com, Rabu (21/9/2011).
Dengan bantuan dari Warren Buffet, yang juga merupakan orang terkaya kedua di AS dalam versi yang sama, ia diyakinkan untuk menandatangani "Sumpah untuk Memberi". Di mana sumpah itu berisi janji pengusaha untuk mendonasikan sebagian besar kekayaannya untuk amal selama ia hidup ataupun setelah meninggal.
Selain Bill Gates, sembilan orang lainnya yang termasuk dalam daftar Forbes 400 yaitu Warren Buffet, Larry Ellison, Charles Koch, David Koch, Christy Walton, George Soros, Sheldon Adelson, Jim Walton, dan Alice Walton. Sumber:

60 Program Indonesia-Jerman Siap Digelar


shutterstock
Jembatan dan Katedral Koln, Jerman.

JAKARTA,  Pemerintah Indonesia dan Jerman siap menggelar rangkaian acara di sedikitnya 12 kota di Indonesia yang menggambarkan keharmonisan hubungan kedua negara.
Sebanyak 60 acara bernama JERIN ini akan meliputi seminar ekonomi, budaya, pameran ilmu pengetahuan dan kerja sama pembangunan kedua negara, serta diskusi politik yang digelar mulai Oktober 2011 sampai Februari 2012.
Demikian siaran pers Kedutaan Besar Republik Federasi Jerman yang diterima di Jakarta, Kamis (22/9/2011).  
Duta Besar Jerman untuk Indonesia Norbert Baas menyatakan, Indonesia dan Jerman sama-sama mempunyai banyak nilai penting. Kedua negara dinilai memiliki hubungan kemitraan yang substantif dan menjanjikan di masa mendatang.   
”Saya percaya kita adalah mitra ideal. Investasi Jerman di Indonesia jelas meningkat dan kita menyambut investasi Indonesia di Jerman. Ekonomi yang bersifat komplementer akan menguntungkan dan akan menjadi stimulus yang alami,” ujarnya.
Agenda kemitraan Eropa dan Indonesia saat ini bergerak di bidang kebijakan perdagangan dan isu global lain, termasuk perubahan iklim. Menurut Norbert Baas, banyak alasan mengapa Jerman dan Indonesia perlu melihat ke depan dan mengidentifikasi bidang mana yang bisa diperkuat kerja sama.  
”Perusahaan-perusahaan Jerman siap untuk itu dan pelaku seni budaya di Jerman penasaran untuk menjelajah panorama kebudayaan di Indonesia yang penuh inspirasi,” ujarnya.
Informasi mengenai rangkaian acara bisa diakses lewat www.jerin.or.id.
JERIN merupakan rangkaian acara yang didukung Pemerintah Jerman, Kedubes Jerman di Jakarta, lembaga kebudayaan Jerman Goethe Institut, maupun Kamar Dagang Jerman-Indonesia (Ekonid).

Jangan Hanya "Stake Holders", tapi "Right Holders"




 
ICHWAN SUSANTO Gedung Pusat Pelatihan REDD+ di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (1/9/2011).



PALANGKARAYA,  Dalam pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+), masyarakat hendaknya tak hanya menjadi stake holders atau pemangku kepentingan. Mereka juga harus berperan sebagai right holders dengan diberikan hak untuk menentukan aktivitas pelestarian lingkungannya sendiri.
Demikian dikatakan anggota Komisi Daerah REDD+ Kalteng, Aloe Dohong, dalam sesi Governors Climate and Forests (GCF) yang bertema "Peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Mensinergikan Stakeholders Dalam Pelaksanaan REDD+" di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (22/9/2011).
Masyarakat sepatutnya memiliki hak menerapkan REDD+ tanpa tekanan dari siapa pun. Jika hak sudah diberikan, mereka harus mampu mereduksi emisi dengan caranya sendiri. Bila konsep right holders bisa diterapkan dengan baik, masyarakat akan turut menjadi pelaku implementasi REDD+.
Karena itu, menurut Aloe, peran pengawas sebagai bentuk dari penerapan stake holders sebaiknya dilengkapi dengan pelaksana. Jadi, civil society tak hanya menjadi watch dog yang memantau pelaksanaan REDD+ sesuai jalur atau belum. "Mereka bisa ikut bekerja," ujarnya.
Ketua The Institute for the Conservation and Sustainable Development of Amazonas, Mariano Cenamo, mengatakan, sebagai bagian dari civil society di Brasil, pihaknya ikut terlibat menerapkan REDD+.
Sebanyak 15 proyek sedang dijalankan LSM tersebut. Lalu, kami juga sudah mengajukan tiga rancangan undang-undang (RUU) dan satu di antaranya sudah disetujui. "Selain itu, kami sedang mengajukan dua peraturan daerah," katanya.

Ada Potensi Rongsokan Satelit Jatuh di Indonesia



 
NASA Upper Atmosphere Research Satellite (UARS), diluncurkan September 1991 menggunakan pesawat ulang alik Discovery.



 Seperti diberitakan sebelumnya, rongsokan Upper Atmosphere Research Satelite (UARS) diperkirakan akan jatuh Jumat (23/9/2011) besok. NASA mengungkapkan bahwa perkiraan lokasi jatuhnya rongsokan satelit ini ialah antara 57 derajat lintang utara hingga 57 derajat lintang selatan.
Ditemui hari ini, professor astronomi dan astrofisika LAPAN, Thomas Djamaluddin mengatakan, "Kalau ditanya apakah ada potensi satelit itu jatuh ke Indonesia, jawabannya ada. Semua daerah yang ada di rentang 57 derajat lintang utara hingga 57 derajat lintang selatan berpotensi."
Namun, Thomas menjelaskan, hingga saat ini, semuanya belum pasti. Ditemui Kamis (22/9/2011) siang di Jakarta, ia mengatakan, saat ini satelit masih ada pada ketinggian 190 km dan masih sulit bagi ilmuwan untuk memprediksi waktu dan tempat jatuhnya satelit itu.
"Kalau satelit sudah ada pada ketinggian kritis, 120 km, baru bisa diprediksi. Pada ketinggian tersebut, satelit baru bisa dikatakan jatuh. Ini karena atmosfer pada ketinggian tersebut lebih padat sehingga satelit bergerak lebih cepat," jelas Thomas.
Thomas mengatakan, diperkirakan ada 26 keping satelit yang akan jatuh ke Bumi. Kepingan terbesar diperkirakan berukuran 150 kg dan ada kepingan kecil yang mungkin jatuh. Sebaran kepingan diperkirakan cukup luas, mencapai ratusan kilometer.
Menurut Thomas, tak seperti meteor yang habis terbakar ketika masuk atmosfer Bumi, beberapa komponen satelit memang bisa selamat dari atmosfer. Jenis komponen yang selamat adalah yang terbuat dari bahan dasar titanium.
Bagi negara yang terkena dampak rongsokan satelit, Thomas menuturkan, "Ada penukar rasionalnya bagi negara yang kejatuhan. Satelitrnya sendiri mudah diidentifikasi. saat ini semua space junk juga bisa diidentifikasi milik siapa. Ada hukum internasional untuk melakukan klaim."
Kemungkinan rongsokan satelit mengakibatkan kecelakaan langsung pada manusia sangat kecil. Material yang jatuh juga tak bersifat radioaktif. Namun, NASA meminta masyarakat yang menemukan untuk melaporkan. Terakhir yang perlu diketahui adalah tak ada gunanya mengoleksi rongsokan ini.

Wednesday, September 21, 2011

Malaysia: Diduga Perompak, 6 WNI Ditahan




 

KUALA LUMPUR,  Pihak berwenang Malaysia mengatakan, pihaknya telah menangkap enam warga negara Indonesia (WNI) yang berusaha merampok sebuah kapal di Selat Malaka, Selasa (20/9/2011).
Menurut Kepala Tentara Laut Diraja Malaysia, Laksamana Zulkifli Abu Bakar, patrolinya memergoki orang-orang itu mencoba menaiki sebuah kapal dagang di lepas pantai Johor, dekat Singapura, pada Minggu (18/9/2011) pagi.
"Begitu menyadari aksi mereka diketahui, para perompak itu mencoba melarikan diri. Namun kapal patroli kami berhasil mengejar kapal mereka dan kami memberi tembakan peringatan sebelum mencegat kapal bajak laut itu di perairan Malaysia," jelas Abu Bakar.
Dia menduga, para perompak itu datang dari arah Batam dan berkumpul di wilayah itu untuk merampok tiga kapal. Hingga kini penyelidikan terhadap keenam WNI masih dilakukan.
Pada Juni lalu, Biro Maritim Internasional (International Maritime Bureau/IMB) mengirim peringatan kepada kapal-kapal yang melewati Selat Malaka untuk lebih waspada terhadap aksi pembajakan.
IMB menyatakan terjadi peningkatan ancaman kelompok lanun bersenjata di perairan Selat Malaka. Sejak Januari 2011, terjadi 41 perampokan.
"Kami senang aparat Malaysia berhasil menangkap para perompak. Hal itu menunjukkan komitmen dan keseriusan mereka dalam menghadapi kejahatan di laut," kata Noel Choong, kepala IMB.
"Penegakan hukum yang tegas akan menciutkan nyali para perompak," imbuh Choong.

Penghitungan Karbon Dibantu Google Earth



ICHWAN SUSANTO Manajer Teknik Google Earth Outreach and Earth Engine, Rebecca Moore, Rabu (21/9/2011), berbicara di depan media, di sela-sela penyelenggaraan pertemuan tahunan Governors Climate and Forests (GFC) Task Force di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.



PALANGKARAYA, - Google semakin mengembangkan diri dan melengkapi fitur Google Earth untuk fasilitas survei hingga penghitungan karbon. Setiap orang bisa memaksimalkan Google Earth dengan penggunaan ponsel android yang memiliki perangkat lunak Open Data Kits.
Rebecca Moore, Manajer Teknik Google Earth Outreach and Earth Engine, Selasa (21/9/2011), di di sela-sela penyelenggaraan pertemuan tahunan Governors' Climate and Forests (GFC) Task Force, Palangkaraya Kalimantan Tengah, mengatakan, setiap saat Google mengolah data sekitar 1.000 Gigabyte dalam pengelolaan Google Earth.
Khusus untuk perlindungan hutan dan penghitungan karbon, Google Earth membutuhkan masukan data dari daratan yang dilakukan manual oleh warga lokal atau pun para ilmuwan. Dengan membawa ponsel android, mereka bisa memasukkan data berupa lebar dan tinggi sampel pohon serta memasukkan posisi geografis yang ditangkap ponsel itu.
Setelah itu, jika ada sinyal karena di daerah remote area tidak ada sinyal, mereka dapat mengirim data itu menuju server Google Earth untuk dikomputasi. Untuk mekanisme pengawasan, warga juga dapat mengambil foto dan memasukkan data titik geografis hutan yang rusak atau terdapat ilegal logging serta mengirimkannya ke Google Earth melalui software dalam ponsel android.
Hal ini telah diterapkan Google Earth pada pendataan stok karbon oleh masyarakat adat Surui di Brasil beberapa tahun lalu. "Google Earth mudah digunakan, sehingga dulu sering disebut hanya main-main. Tetapi apa yang ditampilkan itu akurat dan fakta di lapangan," ujarnya.
Rebecca menjamin setiap data terlindungi dan terjaga keamanannya. "Seperti anda memiliki akun e-mail dalam gmail, sangat kami jaga sekuriti dan proteksinya," ucapnya.
Metode pengawasan seperti ini sudah diterapkan oleh Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan atau UKP4. Cara pelaporan, ambil gambar foto atau video lokasi dengan ponsel pintar (smartphone) yang diaktifkan fitur global positioning system (GPS).
Pelaporan harus berisi deskripsi koreksi, penambahan, atau perubahan informasi. Foto pun diminta jelas dan terintegrasi dengan data penanda posisi geografis. Peta yang digunakan UKP4 itu menggunakan bantuan layanan Google Earth. Kemudian, kirim ke alamat surat elektronik UKP4 yaitu serambi.inpres10@ukp.go.id.

Tuesday, September 20, 2011

Teras Narang: Donor Harus Bersih



ICHWAN SUSANTO Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang, Selasa (20/9/2011) membuka pertemuan Governors Climate and Forests Task Force Meeting di Palangkaraya. Ia didampingi antara lain Dubes Norwegia Eivind S. Homme dan mantan Gubernur Papua Barnabas Suebu.

PALANGKARAYA,  Dalam pertemuan tahunan Governors' Climate and Forests Task Force, Selasa 20-22 September 2011 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sedang dibahas mekanisme pendanaan bagi penyelenggaraan usaha inisiatif itu. Sejak GCF berdiri pertengahan tahun 2009, pendanaannya dibiayai Pemerintah Amerika Serikat.
Diharapkan, negara-negara yang terlibat dan peduli dengan isu kehutanan dan lingkungan juga turut berpartisipasi dalam pendanaan ini. Ihwal pelibatan perusahaan sebagai donatur pun masih dibahas dalam pertemuan GCF Palangkaraya. Namun, sebagai rambu-rambunya, Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang menegaskan, donatur dari golongan perusahaan harus disaring dengan baik.
"Meski mekanisme pendanaan GCF masih dibahas dalam pertemuan ini, saya ingin mengutarakan pemikiran kami, Kalteng sebagai anggota GCF, bahwa donatur, terutama perusahaan atau pengusaha, harus memiliki best practise dan menerapkan kaidah-kaidah operasional perusahaan yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan hutan," tuturnya seusai membuka pertemuan tahunan GCF Task Force di Palangkaraya, Selasa (20/9/2011).
Ia mengatakan, perusahaan harus memiliki kejelasan jumlah emisi yang keluar dari aktivitas pabriknya. "Jadi, tidak hanya terima uang, tetapi juga pilih dari pengusaha yang punya komitmen menjaga lingkungan dan perubahan iklim serta kewajiban sosial (corporate social responsibility)," ucapnya.
William Boyd, Penasihat Senior dan Pimpinan Program GFC, mengatakan, mekanisme pendanaan GFC merupakan hal baru. Ini karena sebelumnya GFC dibiayai oleh Pemerintah AS. "Namun, mendatang kami berharap ada keterlibatan negara-negara yang daerahnya anggota GCF, seperti Indonesia, Brasil, Meksiko, untuk ikut dalam pendanaan," ucapnya.

12 Spesies Katak Langka Ditemukan



Systematics Lab, Delhi University, Sathyabhama Das Biju Salah satu jenis katak yang ditemukan di India.


Sebanyak 12 spesies katak langka ditemukan di wilayah India, ditambah penemuan kembali 3 spesies yang semula diduga punah. Penemuan ini menunjukkan bahwa wilayah India kaya akan keanekaragaman hayati jenis amfibi.
Salah satu spesies baru yang ditemukan ialah katak malam bersuara mengeong, katak yang suaranya mirip seperti kucing. Jenis lain ialah katak malam Wayanad yang tumbuh hingga sebesar bola baseball. "Ini seperti monster," kata Sathyabhama Das Biju, ilmuwan University of Delhi, penemu spesies ini.
Sementara itu, salah satu jenis katak yang ditemukan kembali setelah diduga punah adalah katak malam Coorg. Jenis katak ini ditemukan serta dideskripsikan 91 tahun lalu dan selama bertahun-tahun telah diabaikan karena diduga telah punah. Penemuan katak ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa yang terbit bulan ini.
Dengan penemuan ini, India kini memiliki 336 jenis katak yang telah teridentifikasi. Biju percaya, jumlah spesies katak yang ada masih jauh lebih banyak.
Secara global, berdasarkan data Global Wildlife Conservation, diketahui bahwa 32 persen spesies katak yang ada terancam punah. Faktor penyebabnya adalah berkurangnya habitat dan polusi.
Perhatian pada jenis amfibi seperti katak juga tergolong kurang. Biju menuturkan bahwa banyak katak di India hidup di satu habitat. Jadi perlindungan habitat diperlukan. "Sayangnya, di India konservasi lebih fokus pada hewan karismatik seperti gajah dan harimau, minat dan perhatian pada katak minim, penelitiannya juga tidak mudah," kata Biju.
Biju menambahkan, penelitian katak juga memiliki potensi ekonomi, seperti dalam bidang medis. "Kami harus menemukan spesiesnya dahulu, memahami dan melindunginya, jadi kita bisa mempelajari potensi klinisnya," ujar Biju seperti dikutip AP, Sabtu (17/9/2011).

Monday, September 19, 2011

Australia Akui Jenis Kelamin Ketiga





CANBERRA,  - Paspor Australia sekarang punya tiga pilihan jenis kelamin, yaitu laki-laki, perempuan dan x. Kategori x hanya digunakan oleh orang interseks -yang organ kelamin eksternal dan alat reproduksi internalnya tidak bersesuaian sehingga orang itu secara bilogis tidak sepenuhnya laki-laki atau pun perempuan.
Para pemegang paspor transgender -yang telah mengubah jenis kelamin tetapi tidak menjalani operasi- akan bebas untuk memilih laki-laki atau perempuan, tetapi tidak akan diizinkan untuk memilih jenis kelamin 'x'. Sebelumnya, orang yang bepergian tidak dapat mengubah jenis kelamin pada paspornya kecuali mereka telah menjalani operasi.
Jenis kelamin baru (x) itu  masih menjadi masalah di banyak negara, meskipun semua negara yang berada di bawah Organisasi Penerbangan Sipil Internasional memenuhi syarat untuk memperkenalkan kategori 'x'. Di Inggris, orang tidak harus melakukan operasi untuk mengubah rincian jenis kelamin dalam paspor mereka, asalkan mereka memiliki bukti bahwa mereka secara tetap telah hidup dalam peran jender yang baru itu.
Senator Australia Louise Pratt, yang pasangannya lahir sebagai perempuan dan sekarang hidup sebagai pria, sebagaimana dilansir Daily Mail, Jumat (16/9/2011), mengatakan reformasi itu merupakan sebuah terobosan penting bagi orang-orang yang mengalami kesulitan ketika mereka hendak bepergian ke luar negeri karena penampilannya tidak sesuai gendernya. Dia mengatakan, "X benar-benar sangat penting, karena ada orang yang memang secara genetik ambigu dan mungkin secara sewenang-wenang telah ditetapkan dalam satu jenis kelamin atau yang lainnya sejak lahir. Ini sebuah pengakuan yang benar-benar penting bagi hak asasi manusia bahwa jika mereka memilih untuk berjenis kelamin "tak tentu", mereka bisa."
Kevin Rudd, menteri luar negeri Australia, mengatakan, "Perubahan ini membuat hidup lebih mudah dan secara signifikan mengurangi beban administratif bagi orang-orang yang berbeda jenis kelamin dan gender yang menginginkan paspor yang mencerminkan jenis kelamin dan penampilan fisik mereka."

Orangutan Ini Diduga Derita "Down Syndrome"



COP-BKSDA Jimmy, Orangutan berusia 3 tahun yang diduga menderita Down Syndrome. Orangutan ini ditemukan oleh BKSDA dan COP Muara Wahau Kalimantan Timur. 
 
 
Dalam proses evakuasi, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Center for Orangutan Protection (COP) dari Muara Wahau, Kalimantan Timur menemukan seekor orangutan yang diduga menderita Down Syndrom, sejenis kelainan genetik yang juga bisa diderita manusia.
"Orangutan itu memiliki kepala yang relatif kecil, seperti manusia yang menderita Down Syndrome. Tangan dan kakinya juga agak bengkok tapi masih bisa berjalan. Dari perilakunya juga tampak bahwa orangutan ini lebih pasif," kata Fian Khairunisa, Area Manager COP Kalimantan Timur.
Ciri-ciri lain yang memperkuat dugaan Down Syndrome adalah bagian anteroposterior yang tampak mendatar, sela hidung pada wajah yang juga datar, mulut yang mengecil dan lidah menonjol (macroglossia) serta mata sipit dengan bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).
"Sejauh ini masih dugaan. Kami sudah menunjukkan foto orangutan ini pada ahli primata di Perth Zoo. Harus dicek apakah benar orangutan ini menderita retardasi, tapi diduga kuat memang demikian," lanjut Fian ketika dihubungi Kompas.com siang ini (19/9/2011).
Orangutan memang memiliki 97 persen DNA yang identik dengan manusia sehingga beberapa penyakit yang diderita manusia juga bisa diderita orangutan. Kasus Down Syndrome para orangutan sendiri belum pernah ditemukan, jadi penemuan ini adalah kasus pertama.
Jimmy, demikian orangutan berusia sekitar 3 tahun yang diduga menderita Down Syndrome ini disebut, kini tengah menjalani perawatan di fasilitas BKSDA di Tenggarong Kalimantan Timur. "Kami berharap ada ahli atau dokter hewan yang mau meneliti orangutan ini," pungkas Fian.

Sunday, September 18, 2011

Belanda Terbukti sebagai Penjahat Perang



 
Radio Nederland Pemakaman korban pembantaian Rawagede, Karawang, Jawa Barat oleh tentara Belanda pada tahun 1947.



Pengadilan Den Haag, Rabu (14/9/2011), menyatakan Belanda bertanggung jawab atas pembantaian di desa Rawagede, sekarang bernama Balongsari, Jawa Barat.
Hakim ketua D.A. Schreuder secara tegas menyebut tindakan Belanda sebagai ilegal (onrechtmatig). Keputusan ini memandang Belanda bersalah karena dianggap membunuhi warga sendiri. Pengadilan mendasari putusannya atas pertimbangan bahwa hukum Belanda dianggap berlaku di Hindia Belanda sampai tahun 1949.
Radio Nederland melaporkan, hakim menolak pleidoi advokat negara Belanda, G.J.H. Houtzagers, yang menyebut kejahatan tersebut sudah kadaluarsa. Hakim memakai asas lex spesialis. Artinya pengadilan Den Haag melihat kasus pembantaian Rawagede sebagai kasus khusus, sehingga preseden kadaluarsa tidak berlaku.
Anggota parlemen Belanda dari partai sosialis, SP, terkejut. "Biasanya argumen kadaluarsa selalu sukses, tapi tidak dalam pengadilan ini. Yang penting ternyata kejahatan perang tidak bisa kadaluarsa. Saya pikir ini berita besar. Pertama-tama buat mereka yang terkait, terlebih ini pengakuan bagi mereka yang sudah tidak ada lagi, karena sudah meninggal atau belum bergabung dengan komite. Ini keputusan bersejarah."
Walau demikian, hakim tidak mengabulkan seluruh gugatan ganti rugi. Pengadilan Den Haag membatasi pemberian kompensasi pada janda, korban langsung atau anaknya. Berarti tidak termasuk cucu korban.
Pengacara Liesbeth Zegveld tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Setelah 64 tahun akhirnya Belanda secara hukum dinyatakan bersalah atas aksinya di Indonesia. Putusan ini menjadi preseden baru dan bisa saja diterapkan dalam kasus Westerling di Sulawesi. "Selama mereka masih hidup, dan kasusnya jelas seperti kasus ini...setiap pihak mengakui terjadi kesalahan besar, terjadi kejahatan perang...maka akan dilihat apakah ini sama dengan kasus Rawagede," kata Liesbeth Zegveld seperti Radio Nederland.
Eksekusi
Kasus ini diajukan oleh keturunan korban pembunuhan massal di desa Rawagede. Tragedi berdarah ini terjadi pada 9 Desember 1947, pada masa perang kemerdekaan Indonesia. Tentara Belanda yang mencari pejuang kemerdekaan Lukas Kustario memasuki desa Rawagede dan mengeksekusi penduduk laki-laki karena menolak memberi informasi mengenai kapten Kustario.
Sebagian besar penduduk laki-laki desa Rawagede dieksekusi. Menurut saksi mata, para lelaki tersebut dijejerkan dan ditembak mati. Pihak Indonesia menyatakan, 431 laki-laki dibunuh, Sedangkan pemerintah Belanda pada 1969 bersikeras jumlahnya “hanya” 150. Pada 1947 Belanda memutuskan untuk tidak menyeret pelaku eksekusi massa ke pengadilan.
Pada 2009 keluarga korban menggugat negara Belanda. Para janda menuntut pengakuan dan ganti rugi atas meninggalnya tulang punggung keluarga mereka. Waktu itu, beberapa janda, dan korban selamat terakhir, Saih bin Sakam, khusus datang ke Belanda untuk proses ini. Sayangnya ia wafat 8 Mei 2011 dalam usia 88 tahun. Bagi Saih, pelaku pembunuhan massal tidak perlu lagi diseret ke pengadilan, permintaan maaf dan ganti rugi sudah cukup.
Penjahat
Selama ini Belanda menganggap dirinya korban kejahatan Nazi Jerman di masa Perang Kedua. Keputusan pengadilan Den Haag ternyata membuat Belanda sekarang menjadi pelaku kejahatan perang.
"Sekarang ternyata bukan Jerman saja si penjahat perang. Belanda pun kini dinyatakan sebagai penjahat," tukas seorang wartawan luar negeri yang asyik membuat cerita kasus Rawagede di pengadilan Den Haag.

Bola Api Misterius Kejutkan Penduduk AS




LOS ANGELES,  — Sebuah bola api misterius melesat di langit malam Amerika Serikat, Rabu (14/9/2011) waktu setempat, dan mengejutkan warga yang melihatnya.
Bola api tersebut bisa dilihat oleh sebagian warga di tujuh negara bagian di bagian barat AS, mulai dari Phoenix, Las Vegas, hingga ke kawasan pantai di California selatan.
Laporan penampakan obyek misterius tersebut membanjiri pihak berwajib dan kantor-kantor media di wilayah-wilayah itu. Warga mengaku melihat bola api berwarna hijau kebiruan melesat dengan cepat dari barat ke timur sekitar pukul 19.45 waktu AS bagian barat (Pacific Daylight Time/PDT atau sekitar pukul 09.45 WIB hari Kamis, 15/9/2011).
Sebagian warga lainnya melaporkan, obyek itu berwarna kuning dan oranye. Beberapa saksi mata sempat merekam objek tersebut dan mengunggahnya di YouTube.
Berbagai spekulasi muncul tentang bola api itu, mulai dari pesawat makhluk alien yang jatuh sampai kecelakaan pesawat udara biasa.
Namun, Manajer Program Benda Langit Dekat Bumi (Near-Earth Object) NASA Don Yeomans mengatakan, kemungkinan besar benda misterius itu adalah sejenis meteor berukuran besar yang secara ilmiah dinamakan "bola api" (fireball).
"Kami tidak bisa memastikan 100 persen, tetapi hampir bisa dipastikan obyek itu adalah sebuah bola api, meteor seukuran bola basket atau bola bisbol yang pecah sebelum jatuh ke tanah," papar Yeomans.
Yeomans menambahkan, bola api biasanya disebabkan oleh pecahan asteroid yang memasuki atmosfer Bumi. Warna hijau kebiruan yang dilaporkan saksi mata menunjukkan obyek itu mengandung unsur magnesium dan nikel, sementara warga oranye mengindikasikan obyek itu memasuki atmosfer dengan kecepatan beberapa kilometer per detik, yang masih terhitung kecepatan sedang untuk sebuah meteor.
Menurut ilmuwan NASA tersebut, bola api memang lebih jarang terjadi dibandingkan dengan bintang jatuh, kategori meteor yang lebih kecil.
Meski demikian, bola api hampir selalu terjadi setiap minggu di suatu tempat di Bumi, biasanya di atas lautan sehingga jarang ada orang yang melihat. "Itu adalah fenomena alam biasa dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata Yeomans.
Juru bicara Badan Penerbangan Federal AS (FAA), Ian Gregor, juga telah menyatakan, tidak ada insiden penerbangan yang melibatkan pesawat udara di wilayah barat AS pada waktu tersebut. (AP/DHF)

Ribuan Warga Israel Foto Bugil Bersama



AFP Lebih dari 1.000 orang yang tampil tanpa busana alias bugil, mengapung di Laut Mati, sebagai upaya promosi agar laut itu masuk dalam tujuh keajaiban dunia. 
 


LAUT MATI,  – Lebih dari 1.000 warga Israel berpartisipasi dalam hajatan foto bugil bersama di sebuah lokasi rahasia di Laut Mati, Israel, Sabtu (17/11/2011) pagi. Kegiatan ini bertujuan mempromosikan laut, yang memiliki kadar garam sangat tinggi itu, masuk dalam daftar tujuh keajaiban alam dunia, November nanti.
Proyek pemotretan tersebut dikerjakan oleh fotografer AS berdarah Yahudi, Spencer Tunick, yang telah mengerjakan berbagai proyek foto manusia telanjang dengan berbagai latar belakang, mulai dari gletser di Swiss sampai Sydney Opera House di Australia. Menurut Tunick, kesediaan seseorang dari negara tertentu berfoto bugil menandakan tingkat keterbukaan negara tersebut.
"Di beberapa tempat, pekerjaan ini menjadi lebih kontroversial, sementara di beberapa tempat lain proyek ini dianggap sebagai tes tentang kebebasan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap hak di negara tersebut," tutur Tunick dalam jumpa pers sebelum pemotretan.
Di Israel, proyek foto 1.000 orang bugil di Laut Mati ini diprotes oleh para politisi Yahudi Ortodoks dan para rabbi, karena dianggap sebagai perilaku "Sodom dan Gomorrah". Mereka mengancam akan mengambil langkah hukum untuk menghentikan niat Tunick. Tokoh masyarakat setempat bahkan mengancam akan menelepon polisi untuk membubarkan para partisipan acara ini karena dianggap melecehkan masyarakat setempat.
Itu sebabnya, Tunick dan penyelenggara acara ini sengaja merahasiakan lokasi pemotretan itu sampai saat-saat terakhir. Tunick juga sengaja memilih hari Sabtu sebagai pemotretan, karena hari Sabtu adalah hari libur umat Yahudi.
"Itu alasan saya memutuskan mengerjakan proyek ini hari Sabtu (hari Sabbath Yahudi), sehingga tak seorang pun akan berada di dekat lokasi dan melihat orang bugil dari jarak setengah mil dan merasa dilecehkan," ujar Tunick.
Acara pemotretan selama dua jam itu akhirnya berlangsung tanpa gangguan apa pun. Para partisipan pun bebas mengapung di Laut Mati untuk dipotret Tunick. Entah disengaja atau tidak, acara ini digelar di kompleks Mineral Beach, yang terletak tak jauh dari lokasi kota Sodom dan Gomorrah menurut tradisi dan kepercayaan orang Yahudi.
Menurut para pakar lingkungan, Laut Mati terancam kering pada tahun 2050, kecuali ada gerakan besar-besaran untuk menyelamatkan lingkungan di sekitarnya. Permukaan laut tersebut turun sedalam satu meter setiap tahun dan di beberapa titik, garis pantainya telah menyusut hingga satu kilometer ke tengah laut.
Ari Frucht, aktivis yang memprakarsai kampanye Laut Mati sebagai salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia, mengatakan proyek pemotretan Tunick ini diharapkan bisa memunculkan kesadaran masyarakat tentang kondisi lingkungan di Laut Mati dan mendorong pemerintah Israel berbuat sesuatu.

Saturday, September 17, 2011

Helikopter Listrik Berawak Pertama Berhasil Terbang



 
Seorang insinyur di Perancis, Peter Chretien, berhasil merancang dan mengembangangkan helikopter listrik berawak pertama atas permintaan Solution F. Helikopter listrik tersebut bahkan tercatat sebagai helikopter listrik berawak pertama di dunia yang berhasil terbang.
Chretien berhasil merancang helikopter tersebut dalam waktu 12 bulan saja. Seperti yang diberitakan Popular Science, Selasa (6/9/2011) helikopter listrik ini berhasil melakukan penerbangan pertama pada 12 Agustus 2011 yang lalu. Ketinggian pada penerbangan pertama adalah satu meter. Memang sangat sangat rendah. Walaupun demikian, ini tetap tak bisa diremehkan sebab berhasil mengalahkan helikopter listrik sebelumnya, Sikorsky, yang didesain tanpa awak.
Menciptakan helikopter listrik memang tidak mudah. Helikopter terkenal sebagai kendaraan yang "lapar" energi. Helikopter beda dengan pesawat yang hanya membutuhkan daya besar saat take off lalu beroperasi dengan daya minim saat di ketinggian dan landing. Chretien sendiri harus berpikir keras ketika Solution F memintanya merancang helikopter listrik berawak. Ia harus berpikir agar desain helikopter seramping mungkin, seringan mungkin dan seefisien mungkin sehingga bisa mengurangi energi yang dibutuhkan.
Hasil desainnya ada desain rotor co axial yang membuang kontrol cyclic yang berat dan rotor ekor yang tak efisien, dan lebih memilih "sirip" ekor yang simpel dan sistem baling baling yang memungkinkan pilot mengatur arah gerak helikopter. Chretien juga menggunakan bahan aluminum dan kantung polimer Lithium ion yang mudah menguap di bawah kursi untuk memastikan awak mendarat dengan nyaman dan selamat di permukaan kasar. Belum jelas apakah akan helikopter ini akan dikomersilkan.

Friday, September 16, 2011

Radar Kelelawar Buah Lebih Canggih



 
Zoharby Kelelawar buah Mesir (Rousettus aegyptiacus). 
 
Studi menunjukkan, mekanisme radar kelelawar buah untuk memantau lingkungan lebih canggih dari yang diperkirakan.
Dalam artikel di Sciencedaily, Selasa (13/9/2011), tim riset yang dipimpin Nachum Ulanovsky dari Institut Weizmann Israel dan Cynthia Moss dari Universitas Maryland melaporkan, kelelawar buah Mesir (Rousettus aegyptiacus) beradaptasi pada lingkungan yang kompleks menggunakan dua taktik.
Yaitu, mengubah lebar pancaran gelombang suara, mirip mekanisme penglihatan manusia mengatur titik fokus mata untuk melihat hal yang spesifik, serta mengubah intensitas pancaran gelombang suara.
Hal ini didapatkan Ulanovsky dan tim setelah menguji lima kelelawar buah dari Mesir untuk mengetahui lokasi dan mendarat pada plastik berbentuk mangga yang diletakkan di berbagai lokasi, kondisi gelap, diberi halangan berupa jala, dan didukung 20 mikrofon perekam suara.(Sciencedaily/ICH)

Besok, NASA Umumkan Temuan Planet Alien



 
NASA/Kepler Mission Planet Kepler menurut rekaan artis



Besok, Rabu (2/2/2011), NASA akan mengumumkan penemuan planet alien atau ekstra surya terbaru hasil misi pesawat antariksa Kepler. Pengumuman akan dilakukan di Auditorium Markas NASA di Washington, Amerika Serikat, dan disiarkan secara langsung di televisi NASA.
Pengumuman akan dilakukan dalam sebuah briefing pukul 13.00 waktu setempat atau lebih kurang 3 Februari pukul 01.00 WIB. Pihak NASA mengatakan bahwa briefing tersebut hanya akan membahas temuan planet ekstra surya terbaru.
Pengumuman resmi di situs NASA mengungkapkan bahwa data yang dirilis akan memperbarui jumlah kandidat planet. Data berdasarkan observasi yang dilakukan antara tanggal 2 Mei 2009 dan 17 Sepetember 2009. Pertemuan akan mengikuti jadwal yang telah dirilis hari ini.
Dalam pertemuan nanti akan hadir pihak terkait misi Kepler, di antaranya Douglas Hudgins dari Kepler Program Sceintist NASA, William Borucki dan Jack Lissauer yang menjadi investigator misi Kepler di Ames Research Center NASA, serta Debra Fischer, profesor astronomi dari Yale University.
Sebagaimana diketahui, NASA memakai Kepler untuk meneliti planet di luar tata surya yang mengelilingi bintang induknya pada zona layak huni, yang mungkin terdapat air. Jadi, dalam pengumuman itu mungkin masyarakat bisa mendapat informasi tentang planet yang layak dihuni manusia.
Kepler menggunakan fotometer super sensitif yang mampu memonitor lebih dari 156.000 bintang di gugus bintang Cygnus dan Lyra. Dengan peralatan itu, Kepler mampu mendeteksi keberadaan planet melalui peredupan cahaya bintang induk ketika sebuah planet melewatinya.
Baru-baru ini Kepler berhasil menemukan planet alien terkecil bernama Kepler 10b. Planet itu berukuran 1,4 kali Bumi dengan massa 4,6 kali Bumi, mengelilingi bintang yang jaraknya 560 tahun cahaya dari Bumi. Sayang, planet itu tak layak huni karena terlalu dekat dengan bintang induknya.
Bagi Anda yang ingin menyaksikan secara langsung pengumuman tersebut, Anda bisa mengakses televisi NASA secara online di www.nasa.gov/ntv.  

Ditemukan, Planet dengan Dua Matahari



 
NASA/Kepler Mission Planet Kepler menurut rekaan artis



WASHINGTON,  Masih ingat gambaran planet Tatooine, rumah Luke Skywalker dalam film Star Wars yang memiliki dua matahari? Planet seperti itu ternyata benar-benar ada di alam semesta.
Para ahli astronomi AS mengumumkan penemuan planet dengan dua matahari tersebut dalam jurnal ilmiah Science terbaru, Kamis (15/9/2011). Planet yang diberi nama Kepler-16b itu berukuran hampir sama dengan planet Saturnus di Tata Surya kita, dan terletak sekitar 200 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini terletak pada jarak sekitar 105 juta kilometer dari dua bintang induknya, dan memiliki periode orbit 229 hari.
Planet tersebut ditemukan menggunakan teleskop angkasa Kepler, yang memantau tak kurang 155.000 bintang. "Penemuan ini sangat mengejutkan. Sekali lagi, sesuatu yang dulu hanya ada di kisah sains-fiksi, kini menjadi kenyataan," ungkap Alan Boss dari Carnegie Institution for Science Department of Terrestrial Magnetism, salah satu astronom yang menulis artikel ilmiah tersebut.
Studi yang menemukan Kepler-16b ini dipimpin oleh astronom Laurance Doyle dari lembaga Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) Institute yang bermarkas di California, AS.
Sebelumnya, para astronom dari seluruh dunia sudah melihat beberapa planet yang mereka yakini mengorbit dua bintang sekaligus. Akan tetapi, mereka belum pernah melihat planet-planet tersebut melintas langsung di depan dua mataharinya, sehingga penemuan ini menjadi bukti pertama adanya planet dengan dua matahari.
"Kepler-16b adalah contoh pertama dan tak diragukan lagi dari sebuah planet sirkumbinari, yakni planet yang mengorbit dua bintang sekaligus. Sekali lagi ini membuktikan bahwa Tata Surya kita hanyalah satu bentuk variasi sistem planet yang bisa diwujudkan oleh alam." Ungkap Josh Carter dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, yang juga turut terlibat dalam penemuan ini.
Jika ada makhluk yang mendiami planet tersebut, mereka bisa menikmati saat-saat senja dengan dua matahari yang terbenam, seperti dialami Luke Skywalker dalam Star Wars. Namun, kemungkinan adanya makhluk hidup mirip manusia di planet ini sangat kecil, mengingat suhu permukaannya sangat rendah, yakni berkisar antara minus 73 sampai minus 101 derajat Celsius.
Suhu rendah ini dimungkinkan karena meski memiliki dua matahari, ukuran kedua bintang induk tersebut jauh lebih kecil dibanding Matahari kita dan memancarkan energi yang lebih kecil. Massa salah satu bintang tersebut hanya seperlima dari massa Matahari, dan bintang kedua hanya memiliki 69 persen massa Matahari.
Selain dikelilingi oleh planet Kepler-16b ini, dua bintang tersebut saling mengorbit satu sama lain dalam sebuah "dansa angkasa" dengan periode orbit 41 hari.

Kita Hidup di Daerah Bencana



 
KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Acara dialog yang mendatangkan ilmuwan Indyo Pratomo (kanan) dan Gegar Prasetya (tengah) dan dipandu oleh wartawan Kompas, Brigita, pada peluncuran Ekspedisi Cincin Api Kompas di Blitz Atrium Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta, Jumat (16/9/2011).



JAKARTA, — Ekspedisi Cincin Api, ekspedisi ke-12 yang dilakukan harian Kompas, digelar selama setahun dan dilaporkan di harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas di Layar Kaca, dilakukan untuk membantu menyadarkan masyarakat Indonesia tentang bahayanya hidup di daerah bencana.
"Ini adalah ekspedisi ke-12 yang dilakukan harian Kompas untuk menyadarkan masyarakat Indonesia yang hidup di daerah bencana," kata Redaktur Pelaksana Harian Kompas saat peluncuran Ekspedisi Cincin Api di Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (16/9/2011).
Kesadaran akan posisi yang ada dalam bahaya diharapkan membuat masyarakat selalu waspada saat menikmati berkah dari gunung api.
Acara peluncuran diikuti pemutaran film dokumenter cincin api dan dilanjutkan talkshow dengan dua ahli geologi dari ITB, yaitu Indyo Pratomo dan Gegar.

Thursday, September 15, 2011

Baterai Gel Lebih Murah dan Aman



 
Mercedes-Benz Modul baterai lithium-ion yang digunakan Mercedes-Benz pada mobil listrik 
 
Baterai litium yang digunakan dalam komputer jinjing masih menjadi penentu utama ukuran dan berat komputer. Baterai ini menggunakan cairan elektrolit yang mudah menguap dan berbahaya.
Panas yang dihasilkan baterai bisa memicu kebakaran komputer jinjing. Selain di komputer, baterai model ini banyak digunakan dalam mobil listrik. Selain mahal dan berat, efisiensi baterai ini sangat rendah.
Untuk mengatasi, sejumlah peneliti dari Universitas Leeds, Inggris, yang dipimpin Ian Ward, meneliti baterai yang menggunakan gel sebagai pengganti cairan elektrolit.
"Gel polimer ini mirip seperti lapisan film yang solid meski 70 persen berupa elektrolit cair," kata Ward kepada BBC, Sabtu (10/9/2011).
Penggunaan gel akan mencegah pemanasan pada baterai yang dapat mencapai puluhan derajat celsius. Selain akan menghasilkan baterai berukuran lebih kecil dan lebih aman, para peneliti menjanjikan harga baterai ini lebih murah 10-20 persen. (BBC/MZW)

Inilah Sosok Ikan Predator yang Hidup 375 Juta Tahun Lalu



 
Ted Daeschler/ANSP (foto), K. Monoyios (ilustrasi) Fosil ikan predator Laccognathus embryi.
Kurator pada Academy of Natural Sciences di Philadelphia, Amerika Serikat, Edward Daeschler, Selasa (13/9/2011), menyampaikan hasil analisis terhadap fosil Laccognathus embryi, fosil ikan predator yang ditemukan 10 tahun lalu di perairan Amerika Utara.
"Saya tidak akan berenang atau melintasi di dekat ikan itu bersembunyi," kata Daeschler. Fosil menunjukkan panjang ikan 1,5-1,8 meter, dengan kepala yang melebar, mata kecil, rahang kuat, dan gigi tajam.
Daeschler menganalisis, jenis ikan ini bersembunyi di lantai dasar perairan untuk menanti mangsa. Ikan tersebut diperkirakan hidup 375 juta tahun lalu di sekitar Pulau Ellesmere, Arktik, Kanada. Di kawasan tersebut pernah ditemukan fosil Tiktaalik roseae, transisional dari hewan darat menjadi ikan di perairan.
"Keduanya sama-sama predator dan bersaing untuk mendapatkan mangsa," kata Jason Downs, yang juga penulis di Academy of Natural Sciences. Paparan Daeschler ini menjadi puncak analisis terhadap temuan fosil Laccognathus embryi tersebut.

Realitas Krisis Iklim 24 Jam di Dunia




Ilustrasi pemanasan global


 The Climate Reality Project yang didirikan mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, menyelenggarakan kampanye tentang realitas krisis iklim secara global dalam 24 jam.
Setiap satu jam akan dilakukan presentasi. Secara total, presentasi ini dilakukan oleh 24 presenter, di 24 zona waktu, dalam 13 bahasa, dengan 1 pesan utama.
Para penyaji akan melakukan presentasi dengan wahana multimedia yang dibuat oleh Al Gore. Mereka akan mengungkap realitas krisis iklim ekstrim yang mereka alami, berupa bencana-bencana seperti banjir, kekeringan, dan badai.
Juga akan diungkapkan apa kaitan antara bencana tersebut dengan polusi akibat aktivitas manusia yang telah mengakibatkan perubahan iklim. Semua presentasi akan dilakukan tepat pukul 19.00 waktu setempat.
Rantai presentasi tersebut dimulai dari Mexico City, Meksiko, Boulder di Colorado, AS, Victoria (Australia), Kotzebue (Alaska), Polinesia (di bawah Perancis), Hawai (AS), Tonga di Laut Pasifik Selatan, Auckland (Selandia Baru), Pulau Solomon, Canberra (Australia), Seoul (Korea Selatan), Beijing (China), dan di urutan ke-13 adalah Jakarta.
Di Jakarta, presentasi dilakukan oleh Charles Wirawan yang telah bergabung dengan The Climate Reality Project Indonesia sejak tahun 2009, dulu namanya adalah The Climate Project.
Sejak Al Gore menyajikan film The Inconvenient Truth tahun 2006, sejak itu pula muncul kontroversi apakah perubahan iklim benar terjadi. Untuk itu, The Climate Reality Project menjawabnya dengan presentasi tersebut. Di lokasi -lokasi tempat presentasi dilangsungkan, memang sungguh terjadi dampak dari krisis iklim.
Jakarta misalnya, merupakan lokasi yang sering dilanda banjir yang semakin lama semakin parah, sementara Beijing kini semakin terancam oleh krisis air. Sementara sekitar 30 juta penduduk China diperkirakan pada tahun 2020 harus menjadi pengungsi akibat krisis air.
Presentasi 24 jam global ini, akan membuka mata warga dunia tentang realitas terjadinya krisis iklim. "Pihak-pihak yang menyangkal terjadinya krisis iklim memang memiliki uang, namun kami memiliki realitas," ungkap Presiden dan Direktur Eksekutif The Climate Reality Project Maggie L Fox.
Sementara Al Gore menegaskan, dalam krisis iklim tidak ada batas politik. Badai yang mengerikan dan panas yang mematikan terjadi dengan frekuensi tinggi di seluruh dunia. Pertanyaan satu-satunya adalah seberapa cepat kita bisa beraksi? (The Climate Reality Project/Brigitta Isworo Laksmi)

Wednesday, September 14, 2011

Lapisan Es Kutub Utara Catat Rekor Terendah



 

Lapisan es di kutub utara mencatat rekor terendah pada 8 September 2011 lalu. Di hari itu, lapisan es di lautan Arktik hanya mencapai 1,65 juta mil persegi atau sekitar 4,27 juta kilometer persegi. Ironinya, volume lapisan es di laut ini masih bisa terus menurun karena saat ini masih mencair.
Menurut peneliti dari Institute of Physical Analysis, University of Bremen, Jerman, dari data pada sensor di satelit Aqua milik NASA yang diluncurkan pada tahun 2002, catatan tersebut mengalahkan rekor volume es terendah sebelumnya yang terjadi pada 16 September 2007. Ketika itu, volume lapisan es 10.400 mil persegi atau 26.935 kilometer persegi lebih luas.
George Heygster, ketua tim peneliti dari University of Bremen, menyebutkan, data satelit seputar lapisan es di Arktik yang dimiliki memang hanya hingga tahun 1972. Tetapi, mereka yakin bahwa hasil pengamatan terbaru ini kemungkinan besar merupakan kasus volume lapisan es terendah sejak 8.000 tahun terakhir.
Sejak tahun 1972 sendiri, jumlah lapisan es saat musim panas telah berkurang sebanyak 50 persen. "Lebih lanjut, penurunan jumlah lapisan es ini tidak lagi disebabkan oleh variabel alami yang terjadi antara tahun satu dengan tahun lain," sebut Heygster. "Menggunakan pemodelan iklim diketahui bahwa berkurangnya lapisan es itu terkait dengan pemanasan global yang disebabkan oleh manusia," ucapnya. (National Geographic Indonesia)

BMKG Memprediksi Musim Hujan Normal



 
KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI Hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Jakarta pada sore hari seperti terlihat di ruas Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. 
 
JAKARTA,  - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim hujan tahun 2011-2012 berlangsung normal meski musim hujan di banyak wilayah mundur hingga Desember 2011. Zona musim yang dipantau saat ini ditingkatkan dari semula 220 zona menjadi 342 zona.
"Dari 342 zona musim, masih ada 65 zona musim lain yang belum dapat dipastikan masa perubahan musimnya," kata Kepala Pusat Iklim Agroklimat dan Iklim Maritim pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nurhayati, Selasa (13/9/2011), di Jakarta.
Menurut Nurhayati, penentuan zona musim yang bertambah, seperti di wilayah sekitar Bogor, Jawa Barat, terjadi penambahan zona, berarti ada penyempitan zona musim sebelumnya. Begitu pula di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, ada perubahan yang semula nonzona musim menjadi zona musim.
Pada periode musim hujan saat ini, 131 zona musim diprediksi BMKG memasuki musim hujan pada Oktober. Sebanyak 121 zona musim memasuki musim hujan pada November. Sebelumnya, pada Agustus, 9 zona musim sudah memasuki musim hujan, dan pada September, 29 zona musim memasuki musim hujan, semuanya berada di Sumatera.
"Prakiraan ini dibandingkan data 30 tahun periode 1981-2010 dengan hasil 213 zona memasuki musim hujan dengan rata-rata waktu yang sama, 87 zona musim mundur, dan 42 zona musim maju," kata Nurhayati.
Wilayah yang memasuki musim hujan pada Desember, diprediksi terjadi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Seluruh wilayah Sumatera dan Kalimantan diprediksi memasuki musim hujan pada November nanti.
Beberapa wilayah di Jawa yang mengalami musim hujan mundur hingga Desember meliputi pesisir Tangerang dan Bekasi, Karawang bagian utara, Indramayu bagian utara. Di Jawa Timur meliputi sebagian Lamongan, Sidoarjo bagian timur, bagian utara Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso. Kemudian Banyuwangi bagian timur dan Madura bagian selatan.
Wilayah lain di Bali dan Nusa Tenggara mencakup pesisir barat Bali bagian utara, bagian selatan Gianyar, Klungkung, dan Nusa Penida. Sebagian Lombok Timur bagian utara, Dompu, dan Bima bagian timur, Manggarai bagian barat, pesisir selatan Manggarai dan Ngada.
Sebagian besar Flores Timur, Kepulauan Alor, Sumba bagian utara, bagian selatan Timor Tengah Selatan, dan Belu, diprediksi mengalami hal serupa. Sulawesi mencakup Bantaeng bagian barat, Bulukumba, Bone bagian tengah, Rumbia, Konawe bagian selatan, dan Buton.
Di Maluku dan Papua mencakup Kepulauan Sula, Buru bagian utara, Geser, Maluku Tenggara bagian selatan, dan Merauke.
BMKG memprediksikan sifat hujan yang terjadi umumnya normal. Kepala Bidang Iklim dan Agroklimat Hendro Santosa mengatakan, terkait upaya hujan buatan di Sumatera Selatan, diprediksi sebagian besar wilayah itu memasuki musim hujan pada Oktober dengan sifat hujan normal. (NAW)

Dana Pensiun Norwegia Periksa Investasi Saham Sawit





Perkebunan kelapa sawit.

JAKARTA,  -- Dewan Etik The Government Pension Fund-Global (GPFG) Norwegia akan datang ke Indonesia pada pekan kedua Oktober 2011 guna mempelajari portofolio investasi saham dana pensiun itu pada perusahaan-perusahaan yang diduga terlibat deforestasi.
Rencana kedatangan Dewan Etik GPFG diungkapkan Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi, Rabu (14/9/2011) di Jakarta. Menurut Elfian, kabar tersebut diperoleh melalui surat elektronik yang dikirim salah seorang pejabat senior Dewan Etik GPFG.

"Langkah Dewan Etik tersebut merupakan reaksi yang tepat untuk menyelaraskan portofolio investasi saham GPFG dan Letter of Intent (LoI) Indonesia-Norwegia dalam rangka penurunan emisi melalui skema penurunan emisi dengan pengurangan deforestasi dan degradasi hutan (REDD)," tutur Elfian, Rabu (14/9/2011) di Jakarta.
Pada awal Maret 2011, Greenomics merilis laporan yang memperlihatkan investasi saham GPFG pada lima grup bisnis kelapa sawit raksasa yang beroperasi di Indonesia, yang puluhan konsesi sawitnya dinilai bermasalah secara legal. Salah satu referensi yang digunakan dalam laporan Greenomics tersebut adalah laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang menyebutkan bahwa operasi konsesi-konsesi sawit tersebut telah menyebabkan kerugian negara dan kerusakan lingkungan sehingga kegiatan operasionalnya harus dihentikan.
Menurut Elfian, Dewan Etik GPFG telah menginformasikan bahwa mereka akan mempelajari temuan-temuan yang telah diungkap oleh laporan audit BPK tersebut. "Greenomics telah menyatakan kesediaan kepada mereka untuk mendukung sepenuhnya upaya Dewan Etik GPFG," katanya.
Greenomics juga telah menyiapkan berbagai data dan informasi penting terkait dengan investasi saham GPFG pada grup-grup bisnis yang beroperasi di Indonesia -- yang menurut data Kementerian Kehutanan -- masih bermasalah perizinannya, termasuk telah menimbulkan kerugian negara.
Berdasarkan komunikasi Greenomics dengan pihak Kedutaan Besar Norwegia di Jakarta, Dewan Etik GPFG lebih memfokuskan pada isu kerugian lingkungan.
"Fokus Dewan Etik GPFG sangat relevan dengan hasil audit BPK, yang telah mengungkapkan kerugian-kerugian lingkungan yang dilakukan oleh operasi industri sawit dan kertas, yang ternyata terdapat beberapa grup bisnis dari industri tersebut yang sahamnya ikut dimiliki oleh GPFG," papar Elfian.

Tuesday, September 13, 2011

Terungkap 50 Planet Ekstrasurya Baru



 
ESO/M. Kornmesser Ilustrasi plnet ekstrasurya HD 85512. 
 
Spektograf HARPS (High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher) yang terpasang pada teleskop berdiameter lensa 3,6 meter di observatorium La Silla di Chile mungkin adalah instrumen pemburu planet ekstrasurya paling handal. Menggunakan instrumen ini, tim astronom HARPS yang dipimpin oleh Michel Mayor dari University of Jenewa, Swiss, berhasil menemukan 50 planet ekstrasurya baru, termasuk 16 planet yang masuk dalam kategori super-Earth, mirip Bumi namun dengan ukuran jauh lebih besar.
Penemuan tersebut diumumkan dalam konferensi Extreme Solar System yang berlangsung di Wyoming, AS, Senin (12/9/2011), di mana lebih dari 350 astronom berkumpul. Penemuan ini juga merupakan prestasi baru bagi para astronom, sebab berhasil mengumumkan penemuan planet ekstrasurya dalam jumlah terbanyak pada waktu yang bersamaan.
"Panen penemuan oleh HARPS telah jauh melampaui ekspektasi, meliputi penemuan populasi super-Earth yang kaya dan planet tipe Neptunus dengan bintang menyerupai Matahari. Lebih dari itu, penemuan ini menunjukkan bahwa laju penemuan planet semakin cepat," kata Mayor seperti dikutip situs Eurekalert.
HARPS sendiri telah digunakan selama 8 tahun sebagai instrumen pemburu planet. Sejumlah 150 planet telah ditemukan, di mana dua pertiga di antaranya adalah planet dengan massa kurang dari Neptunus. Penemuan-penemuan itu adalah buah dari kerja keras para astronom selama ratusan malam.
HARPS telah membantu para astronom untuk meningkatkan metode estimasi, apakah 376 bintang mirip Matahari yang menjadi objek pengamatan dengan bantuan HARPS memiliki planet bermassa rendah. Para astronom menemukan bahwa 40 persen dari bintang tersebut memiliki planet dengan massa kurang dari Saturnus.
Hardware dan software pendukung HARPS juga telah ditingkatkan sehingga mendukung observasi yang lebih sensitif pada planet batuan yang berpotensi mendukung kehidupan. Astronom telah memilih 10 bintang untuk observasi mula dan berhasil menemukan 5 planet dengan kategori yang telah disebutkan, yang memiliki massa kurang dari 5 kali Bumi.
"Planet-planet ini akan menjadi target terbaik bagi teleskop antariksa masa depan, untuk melihat tanda kehidupan pada atmosfer planet tersebut dengan cara mendeteksi tanda-tanda kimiawi, seperti keberadaan oksigen," ungkap Fransesco Pepe dari Observatorium Jenewa, Swiss.
Salah satu planet yang ditemukan dan sebelumnya telah diberitakan dalam artikel "Satu Lagi Planet Layak Huni Ditemukan" di Kompas.com, adalah HD 85512b, memiliki massa 3,6 kali massa Bumi dan terletak pada zona dimana keberadaan air dalam wujud cair dimungkinkan.
"Ini adalah planet dengan massa terendah yang pernah ditemukan dengan teknik radial velocity yang ada pada zona layak huni. Juga merupakan planet kedua yang pernah ditemukan pada zona layak huni," jelas Lisa Kaltenegger dari Max Planck Institute of Astronomy di Heidelberg, Jerman dan Harvard Smithsonian Center for Astrophysics di Boston, AS.
Mayor mengungkapkan, penemuan HD85512b menunjukkan sensitifitas instrumen HARPS dalam mendeteksi planet, namun belum menunjukkan batasannya. HARPS saat ini mampu mendeteksi planet dengan massa kurang dari 2 kali Bumi dan dengan amplitudo radial velocity kurang dari kecepatan orang berjalan atau kurang dari 4 km/jam.
"Dalam waktu 10 atau 20 tahun ke depan, kita akan memiliki daftar planet berpotensi layak huni di yang mengorbit bintang tetangga Matahari. Daftar planet potensi layak huni ini penting untuk eksperimen lebih lanjut melihat tanda-tanda kehidupan di atmosfer planet tersebut," kata Mayor yang pada tahun 1995 menemukan planet ekstrasurya pertama yang mengorbit bintang normal.
Kerja para astronom ke depan juga akan terbantu dengan adanya instrumen serupa HARPS yang diinstal di Telescipo Nazionale Galileo di Canary Island untuk untuk mendukung survei bintang-bintang langit utara dan instrumen bernama ESPRESSO yang akan diinstal di Very Large Telescope European Southern Observatory pada tahun 2016.

Awas, Ada Rongsokan Satelit Akan Jatuh ke Bumi



NASA Satelit UARS. 
 
Badan antariksa AS, NASA, memberikan peringatan bahwa satelit The Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) yang sudah mati akan jatuh ke bumi dalam enam minggu ke depan ini. Kendati begitu, NASA belum bisa memprediksi tanggal yang tepat mengenai jatuhnya satelit ini.
UARS adalah satelit yang diluncurkan pada 15 September 1991 oleh pesawat luar angkasa Discovery dan diperkirakan masuk bumi pada akhir bulan ini atau awal Oktober mendatang. Satelit ini sudah tidak berfungsi sejak 14 Desember 2005 dan pada dasarnya didesain untuk misi selama tiga tahun.
Satelit ini memiliki panjang 11 meter dan diameter mencapai 4,5 meter. Seperti dikutip dari TG Daily, meski satelit ini akan menjadi potongan-potongan terpisah saat masuk ke bumi, tidak semua bagian terbakar di atmosfer. UARS mengandung senyawa kimia. Sejauh ini, UARS diprediksi akan jatuh antara Kanad dan Amerika Selatan.
Risiko menyangkut keselamatan publik dan beberapa bangunan yang mungkin terkena reruntuhan dari UARS sangat tinggi. NASA mengimbau agar pihak-pihak yang menemukan potongan satelit dari ruang angkasa ini menghindar. Semua pihak pun diminta proaktif melaporkan kepada yang berwajib jika menemukan potongannya.
Data terbaru menunjukkan, UARS mengorbit 155 sampai 280 kilometer dengan kemiringan 57 derajat ke arah khatulistiwa. NASA memperkirakan bangkai satelit ini akan mendarat pada suatu tempat antara 57 derajat khatulistiwa ke arah selatan dan 57 derajat ke arah utara.
Apabila benda ini tidak terbakar di atmosfer, akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran yang sangat parah terhadap beberapa bangunan di bumi. (National Geographic Indonesia)

Monday, September 12, 2011

Jubah Tembus Pandang Ubah Tank Jadi Sapi



 
BAE SYSTEM
 
Para ilmuwan di BAE System, Swedia, tengah menggarap pengembangan jubah ajaib. Namun, bukan untuk menghilang seperti jubah Harry Potter, melainkan untuk kebutuhan kamuflase kendaraan-kendaraan militer.
Nantinya, perangkat ini akan dapat melindungi tank dari serangan roket pencari panas yang kerap memburunya. Proyek riset yang diberi nama Adaptiv ini akan diuji coba dalam dua tahun mendatang.
Jubah tembus pandang militer ini terdiri atas kepingan logam berbentuk heksagonal sebesar telapak tangan orang dewasa. Kepingan logam ini dapat dipanaskan atau didinginkan dengan cepat untuk menyamarkan bangunan, kapal, atau helikopter yang terbang rendah. Untuk menyelubungi sebuah tank kecil, diperlukan sekitar 1.000 kepingan logam tersebut.
Perangkat ini dilengkapi dengan pemindai untuk "membaca" lingkungan sekitar. Kemudian, pola-pola hasil pemindaian direproduksi pada panel logam berbentuk heksagonal yang berada di lambung tank (atau obyek lainnya). Selanjutnya, citra inframerah ditampilkan sehingga memungkinkan tank menyatu dengan lingkungan sekitarnya dan membuat musuh melihatnya sebagai sebuah mobil atau bahkan seekor sapi.
Menurut Peter Sjolund, pimpinan riset, teknologi ini bekerja layaknya layar televisi termal. Selain membawa koleksi gambar yang sudah tersimpan, perangkat itu juga bisa mengambil gambar yang sesuai dengan lingkungan sekitarnya apabila diperlukan. Pengembangan lebih lanjut bahkan bisa makin canggih lagi. (National Geographic Indonesia)

Sunday, September 11, 2011

Terumbu Karang Terancam Punah dalam 30 Tahun



 
KOMPAS/LASTI KURNIA
 
Perubahan iklim, penyebaran zat kimia berbahaya di laut yang disertai oleh penangkapan ikan berlebih, pembangunan di kawasan pesisir pantai, dan juga polusi, akan menghancurkan terumbu karang setidaknya dalam waktu 30 tahun ke depan.
Sebagai gambaran, bleaching, atau kasus memutihnya terumbu karang dari aslinya yang berwarna warni cerah akibat perubahan iklim yang terjadi di Samudera India pada tahun 1998 lalu telah menghancurkan 16 persen terumbu karang dunia dalam waktu beberapa pekan saja.
"Kita telah menghapus banyak spesies dalam beberapa tahun belakangan. Namun kali ini, untuk pertama kalinya kita akan benar-benar mengeliminasi seluruh ekosistem," sebut Peter Sale, ekolog kelautan dari United Nations University dalam bukunya Our Dying Planet: An Ecologist’s View of the Crisis We Face yang baru dipublikasikan.
Meski hanya menguasai luas sebesar 0,1 persen dari seluruh kawasan samudera, namun terumbu karang merupakan bagian yang sangat penting karena keanekaragaman mereka yang sangat luar biasa, jauh lebih kaya dibandingkan dengan keanekaragaman makhluk hidup di hutan hujan.
Sayangnya, terumbu karang juga sangat ringkih, dan sedikit pun perubahan yang terjadi di samudera akan menyebabkan ganggang yang merupakan makanan karang tersebut menjadi musnah. Dan meski ada mikroorganisme karang kecil yang mampu bertahan akibat kehancuran total terumbu karang, hilangnya terumbu karang seringkali menjadi sinyal akan timbulnya kejadian pemusnahan massal.
"Hilangnya spesies yang saat ini terjadi dalam berbagai sisi sama dengan kejadian pemusnahan massal yang terjadi di masa lalu,” ucap Sale. (National Geographic Indonesia)

Saturday, September 10, 2011

Kepiting Jantan Seksi dari Capitnya



 
 
Capit kepiting merupakan alat mencari mangsa sekaligus pertahanan untuk bersaing dengan kepiting lainnya. Tidak hanya itu, ukuran capit pun menentukan keunggulannya menarik lawan jenis. Tidak harus dengan capit asli, dengan capit buatan pun asal besar menarik perhatian kepiting betina.
Hal itu diberitakan pada 13th Congress of The European Society for Evolutionary Biology. Peneliti mengganti capit kepiting dengan robot dan mencoba menarik perhatian betina dan terbukti bisa.
Menurut penelitian, dengan melambaikan capit robotnya, kepiting betina akan lebih tertarik kepada pejantan. Peneliti mengevaluasi tentang bagaimana ukuran dan kecepatan dari lengan robot ini berpengaruh terhadap lingkungan sekitar, khususnya kegunaannya untuk berkembang biak.
Sophie Callander dari Australian National University mengungkapkan, "Saat ada betina datang, mereka langsung tertarik dengan warna kuning dari capit robot tersebut. Kami menggunakan capit yang dapat diatur secara sepenuhnya yang disebut dengan Robocrab."
Tiga Robocrab mengelilingi si betina untuk dapat mengukur perbedaan dari kecepatan lambaian dan ukuran capit yang dimiliki pejantan. Betina kemudian mendekati pejantan dengan capit terbesar serta tingkat gelombang lambaian yang lebih tinggi.
Selain untuk menarik perhatian, capit yang besar berfungsi untuk melindungi kerabatnya yang lebih kecil. "Hal itu terjadi karena dengan tingkat pertahanan yang lebih besar, maka tingkat keberhasilan perkawinan mereka pun akan semakin tinggi," jelas Callander.
Kepiting yang menjadi percobaan adalah jenis Uca mjoebergi yang hidup di Australia Utara. Para betina akan tertarik kepada pejantan yang menari dan memamerkan ketangguhan capit mereka. Lambaian capit pejantan akan menarik betina yang kemudian masuk ke liang pasir dan tinggal untuk kawin. (National Geographic Indonesia)